Minggu, 03 Desember 2017

Perbedaan antara akuntansi manajemen dan akuntansi keuangan termasuk:[1]
  1. Akuntansi manajemen memberikan informasi kepada orang-orang dalam suatu organisasi sedangkan akuntansi keuangan terutama bagi mereka yang di luar itu, seperti pemegang saham
  2. Akuntansi keuangan diperlukan oleh hukum sedangkan akuntansi manajemen tidak. Standar khusus dan format mungkin diperlukan untuk akun hukum seperti dalam Standar Akuntansi Internasional di Eropa.
  3. Akuntansi keuangan meliputi seluruh organisasi sedangkan akuntansi manajemen mungkin lebih fokus kepada produk tertentu atau pusat biaya.
Akuntansi manajerial digunakan terutama oleh orang-orang dalam sebuah perusahaan atau organisasi. Laporan dapat dihasilkan untuk setiap periode waktu seperti harian, mingguan atau bulanan. Laporan dianggap "mencari masa depan" dan telah meramalkan nilai bagi mereka yang ada di dalam perusahaan.
Akuntansi keuangan digunakan terutama oleh orang-orang di luar perusahaan atau organisasi. Laporan keuangan biasanya dibuat untuk jangka waktu yang ditetapkan, seperti tahun fiskal atau periode. Laporan keuangan secara historis faktual dan memiliki nilai prediktif untuk mereka yang ingin membuat keputusan keuangan atau investasi dalam suatu perusahaan.
Akuntansi manajemen adalah cabang akuntansi yang terutama berkaitan dengan laporan keuangan rahasia untuk penggunaan eksklusif dari manajemen puncak dalam sebuah organisasi. Laporan ini dibuat dengan menggunakan metode ilmiah dan statistik untuk sampai di nilai moneter tertentu yang kemudian digunakan untuk pengambilan keputusan. Laporan tersebut dapat meliputi:
  • Laporan perkiraan penjualan
  • Analisis anggaran dan analisis komparatif
  • Studi kelayakan
  • Laporan konsolidasi dan merger
Akuntansi Keuangan, di sisi lain, berkonsentrasi pada produksi laporan keuangan, termasuk persyaratan pelaporan dasar profitabilitas, solvabilitas likuiditas, dan stabilitas. Sifat laporan ini adalah dapat diakses oleh pengguna internal dan eksternal seperti pemegang saham, perbankan dan para kreditur.
Awal cerita, teman Nicholas memberikan 100 ekor ikan Garra Rufa secara cuma-cuma ketika masih duduk di bangku SMA. Karena tak suka dengan ikan yang kerap digunakan untuk fish pedicure atau terapi ikan ini, dia membuat toko online bernama "Garra Rupa Center" untuk menjual ikan tersebut. Tanpa diduga, usaha itu bisa menghasilkan keuntungan Rp 2 juta sampai Rp 3 juta per bulan. Melihat hal ini sebagai peluang bisnis, Nicholas pun mulai serius menambah produk ikan hias jenis lain untuk dijual.
Meski begitu, Nicholas tak melupakan pentingnya pendidikan. Dia tetap melanjutkan kuliah ke salah satu sekolah bisnis di Jakarta untuk menunjang usahanya. Sambil berkuliah, ia bahkan berhasil menembus penjualan Garra Rufa ke sejumlah mal di Indonesia.
Pada 2011, lewat toko online baru bernama Venus Aquatics, bisnis Nicholas makin berkibar. Dia mendapatkan kesempatan melakukan ekspor berbagai jenis ikan hias, terutama Garra Rufa.
"Saya ekspor ikan hias sudah ke banyak negara. Tapi kebanyakan saya kirim ke Eropa. Di sana permintaan ikan hias cukup tinggi," kata Nicholas, dikutip Kompas.com, Kamis (6/3/2014).
Ia menyebutkan, Amerika Serikat, Tiongkok, dan negara di Timur Tengah cukup rutin pula membeli produk ikan hiasnya. Kini, sebagian besar pendapatan dia peroleh dari hasil ekspor.
"Bisa mencapai Rp 500 juta per bulan. Tapi, kadang hanya Rp 100 juta atau Rp 200 juta per bulan. Jadi, tidak menentu," tutur Nicholas.
Kegagalan bukan akhir
Jika Nicholas berhasil meraup untung dari satu jenis bisnis, lain cerita dengan Hafizh Suradiharja. Sebelum pemilik CV Roti John Bali Fresh ini sukses berbisnis di usai 25 tahun, ia berulang kali terpaksa menelan pahit kegagalan dalam merintis usaha.
Pada 2006, saat pria kelahiran 1988 ini masih berstatus mahasiswa, ia sempat mencoba bisnis sekolah disk jockey (DJ). Setahun bangkrut, Hafizh beralih ke usaha kuliner, tepatnya kedai sop buah. Lagi-lagi, karena kalah saing, kedai terpaksa tutup buku.

Berkongsi dengan pebisnis asal Singapura juga pernah dijajalnya. Namun, hanya berjalan enam bulan, kerja sama itu batal.
"Partner saya yang jauh lebih tua memiliki pola pikir sangat hati-hati, berbeda dengan saya yang terlampau bersemangat saat itu," kenang Hafizh.
Memang, manusia tak pernah tahu rencana Tuhan. Dari kongsian yang gagal total dengan warga Negeri Kepala Singa itu, Hafizh justru berhasil membuka gerai roti yang kemudian melambungkan usahanya.
"Partner dari Singapura itu selalu membawakan roti John ketika dia pulang," kata Hafizh.
Di sana, roti jenis itu sering disantap sebagai pengganti sarapan pagi. Kini, sudah ada 50 gerai roti John. Kegagalan yang pernah diecap Hafizh pun berbuah manis. Setiap hari dia bisa memproduksi sekitar 500 hingga 1.000 roti. Dalam sebulan, dia mampu meraih omzet hingga ratusan juta rupiah.
Semangat muda
Pemuda memang punya semangat juang tinggi dan lebih nekat mengambil risiko. Maka tak salah jika Presiden Soekarno pernah berkata, "Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku satu pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia".
Semangat mereka memberikan energi, meniti usaha sambil menamatkan pendidikan jadi aktivitas sehari-hari di berbagai belahan dunia. Survey YouthSight pada Februari 2015 mendapati 10 persen mahasiswa di Inggris ternyata sudah memulai bisnis sendiri, sedangkan 17 persen lainnya berencana membuka usaha sebelum lulus kuliah.
Jika ingin mengikuti jejak Nicholas dan Hafizh menjadi pengusaha di usia muda, maka jangan takut memulai. Ingat, kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Paling penting, kita punya semangat untuk bangkit dan belajar dari pengalaman itu.
Hal lain yang perlu diperhatikan sebagai pebisnis muda yaitu menjaga tubuh tetap sehat dan berenergi. Menjadi pengusaha sambil berkuliah atau bekerja tidaklah mudah. Anda dituntut memiliki tubuh "baja", bisa bekerja kapanpun, termasuk di jam-jam istirahat atau hari libur.

Karena itu, asupan makanan harus dijaga. Di saat-saat super sibuk, Anda bisa memanfaatkan minuman berenergi, misalnya, Kratingdaeng Pro yang diracik khusus bagi pemuda agar semangat tetap terjaga. Terlebih lagi, Kratingdaeng sudah berpengalaman selama 25 tahun di Indonesia.
Salam sukses!